Tampilkan postingan dengan label OASE IMAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OASE IMAN. Tampilkan semua postingan

AKUMAU TETAP JADI GURU, BU

Jumat, 02 Oktober 2009

Aku Mau Tetap Jadi Guru, Bu...
Penulis: Rafifah

Sebening kaca hatimu ibu
Teduh sejuk menyimpan sejuta kasih
Kau ajak aku dalam hidupmu
Yang penuh rintangan

Kubersyukur terlahir kedunia ini melalui rahimmu
Kau ajari aku berdoa tuk setiap keluh dan kesah
Saat kuayun penaku ini, ku sedang mengulang ingatanku tentang kegembiraanku tadi pagi bersama murid-muridku.

Hilang sudah rasanya penat seharian, kalau ingat muridku yang lucu-lucu.Terima kasih muridku, kau sungguh lucu. Kadang aku tidak bisa tidur hanya karena tiba-tiba ingat si Iman yang melucu.

Atau Salma yang selalu orasi, bak seorang orator ulung. Padahal menyebut huruf “R” saja belum jelas. Ah terlalu banyak kejadian yang mengesankan, Bu…

Kalau kutulis semua ibu lelah membacanya. Buku diaryku pun sudah ampun-ampun kalau kumulai menulis tentang anak-anak setiap malam menjelang tidur.

Tapi Bu, kusedih kalau ingat perkataan ibu. Sebenarnya sudah lama ibu katakan, mungkin sekarang ibu sudah lupa.Karena ibu sibuk organisasi.

Ibu pernah menyuruhku pindah profesi. Kalau ada yang tanya tentang pekerjaanku, ibu selalu menempelkan kata “cuma jadi guru”. Ah gadinya kecil tidak seberapa, apalagi ngajar Tk.

Tapi sungguh Ibu, menjadi guru menjadi cita-citaku sejak kecil. Masih ingatkah ibu, betapa senangnya aku mengumpulkan anak-anak tetangga.Lalu kuajari menyanyi, kuhibur mereka dengan aneka cerita, hingga tidak ada anak yang bersedih.Waktu itu kubayangkan ku jadi guru yang sayang pada murid-muridnya.

Sekarang tercapai sudah cita-citaku, Bu…

Aku jadi bu guru sekarang. Duh senang lho, Bu… Bagaimana tidak hatiku selalu terhibur oleh lucunya anak-anak. Kadang rasa sakit bulananku bisa hilang, karena kulupa. Hatiku terhibur oleh suara anak-anak yang bersenandung.

Aku jadi semangat belajar semua ilmu. Kalau anak muridku tanya sesuatu, aku sudah tahu. Malu khan kalau bu guru selalu jawab tidak tahu. Apalagi anak-anak muridku senang bertanya ini itu.

Ada sebuah tulisan bagus yang pernah kubaca, siapa yang mengajarkan kebaikan, maka semua makhluq Allah akan memintakan ampun, hatta ikan yang ada di laut.

Aku mau tetap mau jadi guru, Bu… sampai maut menjemputku.

KETIKA TUHAN BERTANYA

Ketika Tuhan Bertanya
Penulis: Keusuma Izzati

Satu persatu ayat dalam Ar Rahman mengalun dari pengeras suara di sudut-sudut tiang Masjid Baiturrahman. Perlahan dalam syahdu. Mengiringi mentari menghabiskan sepenggal perjalanannya menuju malam.

"Fabiayyi aalaaa i rabbikuma tukadzdzibaan"

Kesibukan Pasar Aceh mulai bergeliat mempersiapkan waktu berbuka puasa. Sepanjang kaki lima, gerobak-gerobak pecal dan penganan berbuka tampak bersiap siap. Kue lemang yang terbuat dari beras ketan yang dimasak di dalam bilah bambu, tampak berjejer di meja-meja dadakan di pinggir jalan dan emperan toko. Ada juga putu, timpan balun, dan beberapa makanan tradisional Aceh khas berbuka puasa lainnya. Beberapa lelaki tampak sejenak meninggalkan pekerjaannya untuk segera menuju masjid guna menunaikan shalat ashar.

"Fabiayyi aalaaa i rabbikuma tukadzdzibaan"

Keramaian pun hampir sama di pelataran Masjid Raya. Stand penjual buku di sisi timur masjid tampak dipadati orang-orang yang berminat membeli atau pun sekadar membolak-balik beberapa halaman buku yang menarik buatnya. Di teras masjid ada orang-orang yang duduk-duduk sambil menunggu waktu ashar tiba.

"Fabiayyi aalaaa i rabbikuma tukadzdzibaan" kembali mengalun dari pengeras suara di sudut-sudut tiang masjid.

Setelah berwudhu, membasuh gurat kelelahan dari jengkal kulit, saya melangkah ke dalam masjid yang berlantaikan marmer tanpa karpet. Dingin serta merta merasuk dalam pori-pori telapak kaki yang penat. Dingin pula yang terasa perlahan menelusup dalam simpul saraf yang menegang menantang perjalanan hidup.

Perjalanan hidup. Perjalanan yang terasa panjang dan melelahkan. Tak terasa 28 tahun terlewati. Kini saya di sini merasa belum menjadi siapa-siapa. Perjalanan waktu terukir sejak saya dilahirkan di tanah rencong ini. Tumbuh dan besar dalam asuhan alam Islam yang kental. Ritual dan aturan hidup Islam menjadi hal yang biasa sehari-hari bahkan menjadi tradisi yang melekat erat.

Langkah takdir membawa saya keluar dari tanah ini. Keluar untuk mencari bekal ilmu dengan harapan besar untuk penghidupan yang lebih baik secara materi. Kemudahan demi kemudahan membuaikan perjalanan saya. Semua ini seakan adalah karena saya memang pantas untuk mendapatkannya, karena saya adalah yang terbaik. Kenikmatan materi yang mudah digapai ternyata membuat rasa tidak puas pada satu pencapaian, dan semakin menuntut pencapaian yang lebih tinggi. Akhirnya hanya mampu berdalih bahwa manusia memang makhluk yang tidak pernah terpuaskan.

Panggilan-Nya tidak lagi merengkuh hati untuk segera menghadap, di kala pekerjaan kantor menuntut untuk segera tertuntaskan. Marahnya bos di kantor terasa lebih menakutkan daripada marahnya Allah di hari pembalasan kelak. Lembaran mushaf tersingkirkan oleh lembaran laporan kerja. Detik detik malam pun berlalu dalam hening tanpa sujud yang menemaninya. Semuanya berjalan begitu saja, dan hampa.

"Fabiayyi aalaaa i rabbikuma tukadzdzibaan"

Seperti roda pedati, perjalanan hidup adakalanya di atas ada kalanya ia terjungkir ke bawah bersama kerikil dan lumpur. Saya kehilangan pekerjaan. Lantas apakah kita menyalahkan Tuhan akan kondisi kita yang sedang ada di bawah? Mungkin awalnya iya bagi sebagian orang, seperti saya. Saya sempat merasa Tuhan telah tidak adil. Mengapa kesulitan ini semakin menghimpit buat saya. Saya mulai ber'matematika' dengan nikmat Allah. Saya sudah melakukan banyak kebaikan, tapi kenapa keburukan akhirnya menimpa saya juga. Pada saat itu, saya terlupa bahwa begitu banyak nikmat Allah yang telah saya sia-siakan sementara panggilan Allah kadang-kadang setengah hati saya tunaikan.

Ketika Tuhan bertanya, "Fabiayyi aalaaa i rabbikuma tukadzdzibaan"

Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? masih sempatkah kita merenungi jawabannya?

Masih bersimpuh di lantai marmer masjid tanpa karpet, saya merasakan ada nikmat. Nikmat yang mungkin sekian lama terlupakan. Nikmat yang berbeda dengan nikmat pencapaian nafsu duniawi yang fana, yang semakin dikejar malah terasa semakin jauh. Sementara Tuhan masih menanti kita di sisi lain, berlari menuju kita pada saat kita melangkah mendekat pada-Nya.

Adzan ashar bergema dari pengeras suara di sudut-sudut tiang Masjid Baiturrahman. Saudaraku, bersyukurlah kita yang masih "ditanya" oleh Allah.

APA PANTAS BERHARAP SURGA ?

Apa Pantas Berharap Surga?
Penulis: Bayu Gautama

Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun Sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: "Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun kesiangan". Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?

Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

Baca Qur'an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?

Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.

Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?

Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan semata teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?

Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?

Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang sejak kecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.

Astaghfirullaah ...


catatan akhir ramadhan



eramuslim [22/11/2004]


kritik dan saran ke key_key@rikpamail atau jampang@cicadas